PAWAI: Warga Mijen menggelar pawai dalam rangka memperingati datangnya Bulan Ramadan, Senin (15/5/2017). (manteb.com/vita-way)

SEMARANG, MANTEB.Com – Perpaduan antara agama dan budaya kerap menghasilkan sebuah tradisi yang hingga kini masih dilestarikan. Salah satunya yang ada di Kota Semarang, menjelang Ramadan warga Kecamatan Mijen selalu menggelar karnaval mengelilingi sudut-sudut jalan di desa.

Mereka menyebutnya sebagai Napak Tilas Sunan Kalijaga. Ratusan warga Desa Kedungjangan, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang menggelar pawai iring-iringan dari gerbang Desa Kedungdjangan melewati Jalan Jatisari, kemudian Cangkiran, hingga Kampung Poleman Semarang.

Tradisi ini dilakukan gotong-royong oleh warga secara swadaya. Pawai dilakukan dengan menggunakan motor dan mobil box terbuka yang dihias, sambil bersholawat dan berjalan sejauh 15 kilometer. Pawai ini digelar tiap tahun oleh warga menjelang datangnya Bulan Ramadan, selain itu bertepatan dengan prosesi khataman Alquran.

Ada makna tersendiri dari prosesi pawai yang mereka gelar. Menurut Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Purwosari, Mijen, Hadi Priyanto, tradisi ini digelar untuk menghormati jejak peninggalan salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Konon menurutnya, Sunan Kalijaga sering melintasi Desa Kedungjangan untuk mengambil kayu Jati Ombo sebagai bahan baku pembuatan Masjid Agung Demak. Seiring berjalannya waktu, Sunan Kalijaga lantas membuat sumber mata air di sekitar desa untuk minum.

“Dari Jati Ombo itu sejarahnya sampai Masjid Demak, itu kayunya kan dari sini, dari jati ombo, Kedungjangan, Gua Krio sampai Demak,” ungkap Hadi.

Dengan tradisi ini, diharapkan Pemerintah Kota Semarang ikut mendukung pelestarian budaya warga Kedungjangan, dan diharapkan dapat menjadi potensi wisata lokal.

 

Penulis : Vita Astuti

Editor : Wahyu Setiawan