SEJAK MUDA: Sudah sejak muda Mbah Painah menjual pecel gendar buatannya, hingga kini usianya memasuki 103 tahun. (manteb.com/dhila-way)

SOLO, MANTEB.Com – Di usia yang sudah senja, tidak mengurangi semangat Mbah Painah dalam terus bekerja. Nenek berusia sekitar 103 tahun ini setiap harinya berjualan sajian menu makanan yang tak lekang dimakan zaman. Pecel gendar adalah menu yang paling banyak dipesan oleh setiap pembeli, selain cita rasanya yang khas, pecel gendar buatan Mbah Painah ini selalu konsisten dalam soal rasa dari tahun ke tahun.

Pecel gendar adalah sajian menu makanan yang menggunakan gendar sebagai pengganti nasi. Gendar adalah adonan nasi yang diberi bumbu rempah dan penambah rasa. Untuk menambah kekenyalan kadang ditambahkan ‘bleng’, tetapi jika tidak menggunakan itu bisa ditambahkan tepung tapioka agar adonan mentahnya menjadi kenyal dan padat. Gendar buatan Mbah Painah ini selalu dicari oleh pemburu kuliner di Kota Solo.

Selain menjual pecel gendar, warung pecel Mbah Painah yang berada di Jalan Brigjend Katamso, Mojosongo ini juga menyajikan menu yang lain seperti ketan bubuk juruh, sawut, pecel bakmi, dan aneka tahu tempe sebagai tambahan saat menyantap pecel lezat ini.

Harga yang dipatok untuk satu menu pecel gendar ini terbilang sangat murah. Pecel biasa yang dijualnya dihargai Rp2.500 sedangkan pecel gendar dengan isi komplet hanya seharga Rp4.000 saja. Harga untuk sajian menu istimewa buatan Mbah Painah ini memang luar biasa murah, berkualitas, dan bergizi tentunya.

Saat akan membeli, jangan heran kalau harus antre cukup lama. Sebab warung pecel yang buka dari pukul 17.00-23.00 WIB ini setiap harinya selalu ramai dipadati pembeli.

Memutuskan Menetap

Mbah Painah memulai perjalanan berjualan pecel ini sejak usia muda, bahkan sebelum memiliki suami. Beliau awalnya berjualan pecel di daerah Walikukun, Ngawi, bahkan sampai ke daerah Mojokerto Jawa Timur dengan menggunakan kereta api. Namun semenjak usianya menua, beliau memutuskan untuk berjualan menetap.

Sudah hampir 60 tahun beliau konsisten berjualan pecel gendar ini. Dibantu oleh seorang yang bernama Tuginem (60), Mbah Painah yang semakin bertambah usia ini berharap masih ada penerus dalam melanjutkan usaha berjualan gendar pecel seperti yang setia dilakoninya sampai usia senja ini.

“Semoga ada yang bisa meneruskan. Semakin menua usia, semoga nanti ada yang mau setia berjualan seperti saya ini,” tutur Mbah painah.

 

Penulis : Dhika Lukmana
Editor : Wahyu Setiawan