OMAH LOWO: Bangunan tua yang berada di daerah Jalan Slamet Riyadi, Solo ini memiliki sebutan sebagai Omah Lowo. (manteb.com/dhika-way)

SOLO, MANTEB.Com – Jika kita melintasi Jalan Slamet Riyadi Kota Solo, kita akan melihat sebuah gedung tua, tampak lusuh, dan kadang dari dalamnya tercium aroma yang khas. Tak banyak yang tahu, rumah yang terletak di perempatan Purwosari atau yang biasa disebut Solo Center Point ini memiliki banyak kisah sejarah.

Bila dilihat lebih dekat, bangunan ini bertuliskan Villa Liberty. Bangunan tua ini begitu megah dengan menyisipkan arsitektur Eropa pada tiap struktur muka bangunannya. Karena terlalu lamanya bangunan ini tidak terpakai, cat dinding yang seharusnya berwarna putih, kini tampak kusam dan sudah terkelupas. Bahkan beberapa sisa-sisa kayu bekas yang sudah tak terpakai juga ikut menambah kelusuhan bangunan tua yang sering disebut dengan Omah Lowo ini.

Sebutan Omah Lowo sebenarnya merupakan sebutan dari warga sekitar yang terbiasa melihat ribuan lowo atau kelelawar yang tinggal di bangunan tersebut. Kelelawar-kelelawar tersebut sudah lama berdiam diri di dalam, dan jika kita mendengarkan dengan saksama, dari dalam akan terdengar suara kelelawar yang seolah asik bermain di dalam.

Tidak hanya itu saja, biasanya pada sore menjelang, ribuan bahkan puluhan ribu kelelawar tersebut silih berganti keluar masuk rumah tua tersebut. Sehingga sebagian area di perempatan Solo Center Point akan riuh dengan kelelawar penghuni Omah Lowo yang beterbangan tersebut.

Di sisi lain saat semua kelelawar-kelelawar tersebut sedang berkumpul di dalam, bangunan jadi tampak seperti “Kerajaan Batman”. Batman dalam tokoh fiksi pahlawan super digambarkan menyerupai kelelawar, hitam dan memiliki sayap.

Sebenarnya, bangunan ini adalah bangunan peninggalan Belanda pada abad ke-19. Menurut salah seorang penjaga bangunan tua tersebut, ada catatan yang tertinggal dari rumah kelelawar ini. Yaitu pada tahun 1945, Omah Lowo dimiliki keluarga Cina bernama Sie Djian Ho. Dia adalah seorang kaya raya, penguasa, pebisnis di Kota Solo.

Omah Lowo berdiri di area seluas kurang lebih 3.000 meter persegi. Pada saat zaman kemerdekaan, Omah Lowo ini juga sempat dijadikan tempat persembunyian para prajurit Indonesia untuk menahan laju serangan Belanda dan Inggris yang ingin kembali menguasai Pulau Jawa.

Untuk Anda yang penasaran dengan sejarah Omah Lowo atau “Kerajaan Batman” ini, luangkan waktu Anda untuk sekedar mampir sebelum melanjutkan berbelanja di pusat perbelanjaan di Kota Solo.

 

Penulis : Dhika Lukmana
Editor : Wahyu Setiawan