PROSESI: Tumplak wajik Keraton Yogyakarta

YOGYAKARTA, MANTEB.Com – Keraton Yogyakarta menggelar upacara tumplak wajik di komplek magangan keraton, Rabu (30/8/2017) sore. Upacara tumplak wajik merupakan prosesi menumpahkan wajik yang dilakukan jelang hari raya Idul Adha dan pelaksanaan tradisi grebeg.

Puluhan masyarakat memadati kawasan Panti Pareden, Magangan di komplek Keraton Yogyakarta untuk menyaksikan upacara tumplek wajik. Prosesi upacara tumplek wajik diawali dengan penyerahan ubo rampe gunungan yang dibawa oleh putri Raja Yogyakarta, GKR Mangkubumi  dan sejumlah utusan raja Keraton Yogyakarta dengan diiringi tabuhan gejog lesung.

Setelah ube rampe sampai di lokasi prosesi, seorang abdi dalem kraton kemudian mendoakan semua ube rampe tersebut. Usai didoakan prosesi ube rampe pun dilakukan dengan menumpahkan wajik di sebuah bidang yang telah disiapkan. Selanjutnya  wajik  diberi kerangka untuk dibuat gunungan dengan  bilahan bambu yang  diikat. Prosesi selanjutnya adalah dengan memasang mustaka gunungan serta dilanjutkan dengan mengolesi wadah wajik dengan bahan cair, yang disebut boreh dari dlinggo bengle dan menutup wajik dengan dua buah kain.

Prosesi tumplak wajik ini  merupakan upacara yang rutin setiap tahunnya digelar Keraton Yogyakarta setiap jelang hari raya Idul Adha dan upacara grebeg. Wajik sendiri terbuat dari campuran ketan dan gula merah yang dipadatkan.

“Tradisi ini namanya tumplak wajik, kita minta keselamatan, minta pangestu supaya semua berjalan dengan baik dan untuk melestarikan budaya dari eyang-eyang kita” Tutur GKR Mangkubumi.

Tumplak wajik  selain digelar untuk menyambut hari raya Idul Adha  adalah bentuk persiapan keraton untuk menggelar grebeg maulud. Dalam grebeg maulud, Keraton Yogyakarta akan mempersiapkan 7 buah gunungan yang nantinya akan disebar ke beberapa lokasi di luar keraton  untuk diperebutkan masyarakat.

 

Penulis: Adam  
Editor: Widiyanto