Grafis (manteb.com/Prima Kusuma)

JIKA menilik beberapa tahun silam, Solo dikenal dengan budayanya yang kental. Kota dengan segudang cerita mirip roman, ditambah keluhuran nenek moyang yang membanggakan Nusantara. Perhatikan betul bagaimana seniman Didi Kempot menggambarkan Stasiun Balapan dengan lirik-liriknya yang lekat dengan asmara. Kota ini memang penuh cerita bagi siapa pun yang jiwanya sudah tertanam, tak mau meninggalkan, apalagi melupakan.

Kota yang terkenal dengan julukan Kota Bengawan ini, berubah menjadi kota dengan magnet wisata yang cukup kuat. Lokasinya yang tak jauh dari Ibu Kota Jawa Tengah, Semarang, menjadikan Solo masuk ke dalam jajaran kota strategis di provinsinya. Memiliki bandar udara, stasiun, hingga terminal, begitu memudahkan siapa pun yang akan berkunjung ke kota di mana Presiden Joko Widodo ini berasal.

Begitu masuk ke Kota Solo, Anda akan disambut dengan keramaian jalanannya. Kendaraan mulai dari roda dua, hingga roda empat seakan membanjiri sudut demi sudut kota. Orang seakan tak adanya hentinya beraktivitas.

Namun terkadang, di beberapa sudut kota, akan Anda temui wajah Solo yang tidak pernah mati meski di malam hari. Inilah cerminan pertumbuhan Kota Solo yang identik dengan wisata.
Menelusuri jejak tradisi bisa menjadi salah satu destinasi wisata di kota ini. Beragam peninggalan nenek moyang yang masih kokoh hingga sekarang, berhasil disulap menjadi platform Solo dalam menjual slogannya sebagai kota budaya.

Sebut saja Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Taman Sriwedari, Benteng Vastenburg, hingga Taman Balekambang. Tempat yang dulunya dikenal kental dengan budaya dan tradisi, kini ber-transformasi menjadi destinasi wisata yang mampu menyedot wisatawan, bahkan dari mancanegara.

Wisata Kuliner
Kreativitas warga Solo yang tidak anti-tren, turut memberi andil bagi tumbuh-kembangnya kota ini menjadi kota wisata. Tempat-tempat historis mampu menjadi panggung pergelaran berkelas internasional. Pasar-pasar tradisional mampu di-branding elegan hingga menjadi magnet bagi wisatawan.

Kuliner yang dulunya dikenal dengan jajanan kampung, berhasil disulap menjadi buah tangan. Pun dengan barang-barang antik, bisa diolah menjadi kerajinan tangan yang cantik. Perkembangan kota ini pun direspon beragam oleh pelaku industri dan bisnis.

Kini, Solo tumbuh dengan seribu hotel yang ada di dalamnya. Menggambarkan prestis-nya Solo bagi pebisnis, dan betapa menariknya Solo bagi turis-turis.
Bagi para pelancong, jangan sebut pernah ke Solo kalau belum berkeliling Pasar Klewer. Pasar yang punya sejarah panjang, dan baru beberapa waktu lalu diresmikan langsung Presiden Jokowi. Beragam model batik ada di sana, pun dengan aksesoris dan pernah-perniknya.

Selain itu, Anda bisa berbelanja sekaligus berwisata di beberapa pasar tradisional yang unik seperti Pasar Gede, dan Pasar Triwindu. Akan anda temui kekhasan yang tidak pernah dijumpai di pasar lainnya.
Jangan lupakan juga wisata kuliner yang ada di Solo. Mulai dari Srabi Notosuman, cabuk rambak, nasi liwet, hingga timlo. Selain itu, rasakan pula sensasi malam hari Kota Solo lengkap dengan angkringan (wedangan atau hik) menikmati teh panas legi kenthel (nasgithel).
Bisa dikatakan, Solo adalah surga kuliner di Jawa Tengah. Beragam menu kuliner yang menggoyang lidah bisa ditemui di setiap detail sudut kota. Di sinilah kuliner mengekspresikan beragam rupa dan rasa menyambut ribuan bahkan jutaan pelancong selama musim liburan. Selamat datang dan menikmati keindahan dan kelezatan kuliner khas Kota Bengawan.

 

Penulis: Wahyu Setiawan
Editor: Lukas Budi