Ilustrasi

 

TEMANGGUNG, MANTEB.COM – Sebuah Tradisi di Desa Ketitang, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung bernama Nyadran Sapar berlangsung meriah, Senin (14/11/2016).

Ratusan warga membawa gunungan berisi hasil bumi, mereka melakukan kirap menuju tempat pemakaman umum “Mangkuyodo”. Mangkuyudo sendiri merupakan nama seorang ulama dari Kerajaan Mataram Islam yang bertugas menyebarkan agama Islam di wilayah Kedu.

Selain untuk melestarikan budaya Jawa, mendoakan arwah para leluhur dan meminta keselamatan, budaya ini juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah. Dalam tradisi ini, setiap kepala keluarga diwajibkan membawa minimal satu tampah, yang berisi nasi tumpeng dan ingkung ayam jawa. Sesampainya di komplek pemakaman, gunungan hasil bumi dan tampah-tampah yang berisi ingkung tersebut di doakan oleh sesepuh desa. Sebagai puncak acara, puluhan warga berebut gunungan berisi hasil bumi dan dilanjutkan dengan makan bersama di dalam makam.

“Warga percaya dengan mendapatkan hasil bumi dan makam nasi tumpeng yang sudah didoakan, akan mendatangkan banyak rejeki, serta diberi kesejahtaraan dalam hidup” Ujar Jufriyanto seorang sesepuh desa.
Penulis : Rahardian Setiawan
Editor : Lukas Budi Cahyono