Achmad Hafiz,  Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng dan DIY (manteb.com/Vita Astuti-2)

SEMARANG, MANTEB.com – Program Jaminan Kerja Kecelakaan Return to Work (JKK-RTW) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, memberikan manfaat tambahan bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Melalui program JKK-Return to Work (JKK-RTW), BPJS Ketenagakerjaan akan melakukan pendampingan kepada peserta yang mengikuti program ini, yang mengalami kecelakaan kerja, sampai dengan dapat diterima kembali bekerja.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng dan DIY, Achmad Hafiz mengatakan, Return to Work merupakan manfaat tambahan bagi peserta yang mengikuti jaminan kecelakaan kerja. Manfaat program BPJS Ketenagakerjaan berdasarkan PP No 44 Tahun 2015.

“Program ini besar keuntunganya karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk iuran wajib.Sebab sudah menjadi satu dengan program kecelakaan kerja dan program lainya seperti kematian, hari tua, serta pensiun,” jelas Hafiz kepada MANTEB.com, Jumat (22/4/2016).

Selama ini pekerja yang mengalami cacat atau sakit selalu berujung pemutusan hubungan kerja,tentu saja ini memberatkan pekerja yang cacat akibat kecelakaan kerja.

Melalui pengembangan JKK ini, pekerja akan memperoleh manfaat berupa pendampingan hingga dapat kembali bekerja tanpa batasan waktu.

Jika terjadi kecelakaan pada tenaga kerja saat bekerja dan berakibat cacat, maka BPJS Ketenagakerjaan akan meng-cover perawatan dan rehabilitasinya hingga kembali bekerja.

Manfaat program ini dapat dirasakan oleh semua perusahaan di Jateng dan DIY, terutama yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Sebab, setelah ada fasilitasi dan rehabilitasi kepada tenaga kerja diharapkan perusahaan dapat menerima kembali mereka setelah mampu lagi bekerja,” imbuhnya.

Hingga kini sudah ada 162 perusahaan dari 27.680 yang ikut dalam program Return to Work, adapun tenaga kerja yang tercatat ikut dalam program ini sebanyak 500.000 dari 1,35 juta tenaga kerja yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.

Selain itu jika terjadi cacat sebagian permanen,pekerja juga akan mendapatkan pelatihan khusus agar tetap bisa kembali bekerja,di samping santunan cacat yang diterima.

“Dengan demikian pekerja tetap bisa mendapatkan penghasilan dengan keahlian lain hasil dari pelatihan yang dijalani,” tandas Hafiz.

Program ini tidak hanya membantu karyawan yang mengalami kecelakaan tetapi juga membantu perusahaan. Bagi karyawan yang mengalami kecelakaan kerja, akan dilihat kondisinya, pertimbangan risikonya, dan status kelaikan kerjanya.

“Kalau misalnya masih bisa akan kami usahakan untuk tetap bisa bekerja di perusahaan yang sama,” tandasnya.

Penulis: Vita Astuti

Editor: Lukas Budi Cahyono