BEDAYA KETAWANG: Para penari menarikan Bedaya Ketawang dalam Tingalan Jumenengan di Keraton Surakarta Hadiningrat, baru-baru ini. (manteb.com/Lukas Budi-lbc)

 

KEBERADAAN Kota Solo tak bisa dilepaskan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pada usia ke-272, Kota Solo menahbiskan diri menjadi kota dengan keberagaman budaya, agama, golongan, suku, ras, maupun kuliner.

Budaya tak bisa lepas dari Solo. Jalan panjang kelahiran kota ini terus beriringan dengan budaya dengan kesenian tradisi yang masih kental hingga milenium sekarang ini. Generasi boleh berganti, namun Solo tetap teguh berdiri dengan keberadaan budaya dan seni tradisi yang telah mengakar.

Solo dianugerahi seni dan budaya yang tak bisa disaingi daerah lain. Beragam sanggar seni sangat mudah ditemui, baik seni tari maupun kesenian panggung yang tetap berjalan seiringan menghiasi sudut-sudut kota dengan pergelarannya. Simbol-simbol Jawa sangat mudah ditemui di Solo.

Pelaksanaan upacara adat Tingalan Jumenengan menjadi magnet wisatawan maupun media nasional dan internasional. Dalam adat keraton, hari ulang tahun kenaikan takhta raja selalu diperingati dengan upacara Tingalan Jumenengan. Raja akan menggelar pasewakan agung di Sasana Sewaka. Duduk di singgasana dan seluruh sentanadalem, kerabat, dan abdidalem akan menghadap atau marak seba. Lalu menyaksikan dan menikmati satu-satunya acara yang diselenggarakan, pementasan Bedaya Ketawang.

 

Tarian Bedaya Ketawang merupakan tarian mahapenting dan menjadi satu-satunya acara dari upacara Tingalan Jumenengan. Dalam buku “Jahipuba, Jalan Hidup Putri Bangsawan” yang ditulis Wisnu Kisawa, menjadi penari Bedaya Ketawang tak mudah. Penari Bedaya Ketawang adalah orang-orang pilihan, dan tidak sembarang penari bisa masuk kriteria sebagai penari dalam pementasan tarian sakral ini. Setiap penari harus berlatih berhari-hari, butuh kesabaran, ketelatenan, konsentrasi, dan membutuhkan energi lebih.

Para penari yang akan mementaskan Bedaya Ketawang harus mengikuti latihan demi latihan yang digelar di Sasana Sewaka. Tapi sebelum itu, latihan sudah dilaksanakan selama berbulan-bulan setiap Selasa Kliwon. Hanya menjelang hari H pelaksanaan lebih diefektifkan nyaris setiap hari dengan diiringi gamelan langsung oleh abdidalem mlaya yang nantinya juga akan bertugas sebagai pengrawit dalam Tingalan Jumenengan.

Dalam dunia tari tradisional, Jawa mengenal konsep Tri-Wira, yakni wiraga, wirama, dan wirasa. Dalam setiap detailnya diartikan, wiraga di mana sang penari harus memperhatikan bagaimana bentuk tubuh. Wirama, penari harus bisa menyelaraskan gerakan dengan irama gendhing, dan wirasa, seorang penari harus merasakan bagaimana menyelaraskan gerakan dan irama agar menjadi lebih berkarakter.

Sembilan Penari

Bagi orang awam, tarian Bedaya Ketawang sama halnya dengan tari tradisional Jawa lainnya. Sejatinya, menari Bedaya Ketawang tak semudah yang dibayangkan dan dilihat. Sembilan penari memiliki peran masing-masing, yakni batak, endhel ajeg, gulu, dhadha, apit ngajeng, apit wingking, endhel waton, apit meneng, dan buncit.

Wisnu Kisawa menuliskan, konon jumlah Sembilan itu mengandung simbol tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos diartikan jagad gedhe (jagad raya), adapun mikrokosmos adalah jagad cilik (jagad kecil) yang merupakan manusia.

Penjelasan jagad raya mengungkap tentang Sembilan penjuru mata angin (tengah, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, dan timur laut). Sementara jagad kecil mengungkap tentang sembilan lubang kehidupan manusia (dua lubang mata, hidung, dan telinga, ditambah lubang mulut, kemaluan, dan anus).

Peran dari masing-masing penari konon juga menggambarkan bentuk sempurna manusia, yakni batak (kepala), endhel ajeg (nafsu dan keinginan hati), gulu (leher), dhadha (dada), apit ngajeg (lengan kanan), apit wingking (lengan kiri), endhel weton (kaki kanan), apit meneng (kaki kiri), dan buncit (organ seks).

Dalam peran masing-masing penari ini, juga mengungkap hal-hal yang sangat menarik saat dikaitkan dengan simbol mikrokosmos dan makrokosmos. Pada makrokosmos, pergerakan gulu, dhadha, dan buncit yang selalu mengikuti batak, terkadang membentuk komposisi tertentu dalam astronomi Jawa. Bentuk komposisi tersebut menyerupai rasi bintang seperti lintang waluku, dan lintang gubug penceng.

Dalam budaya Jawa, dua rasi bintang ini memiliki arti yang sangat penting dalam pertanda kehidupan. Jika lintang waluku atau tiga bintang dalam sabuk Rasi Orion itu digunakan sebagai pertanda dimulai masa tanam bagi petani, adapun lintang gubug penceng digunakan sebagai penentuan arah selatan bagi nelayan Jawa.

Persiapan menari Bedaya Ketawang layaknya mempersiapkan pengantin wanita. Seperti tradisi pengantin Jawa, para penari ini juga dipingit sebelum pentas. Rias dan busana penari Bedaya Ketawang menggunakan rias paes ageng dan busana dhodhot ageng dengan gelung bokor mengkurep.  Busana para penari ini bisa kita temui dalam pengantin Jawa dengan sebutan Solo Basahan. Sementara, rias dan busana dicirikan dengan warna hijau, sebagai perlambang tentang kemakmuran.

KGPH Puger mengungkapkan, tarian Bedaya Ketawang adalah tarian pusaka keraton yang diturunkan dari langit. Tarian ini diciptakan pendiri Mataram, Panembahan Senopati, seterusnya disempurnakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang merupakan cucu Panembahan Senopati.

Dalam semedinya, Sultan Agung (Raja Mataram 1613-1645), tiba-tiba terdengar suara gendhing. Tidak ada orang dan gamelan dalam patrap semedi. Suara gendhing itu sumbernya dari langit.

Gendhing itu sumbernya dari tawang atau langit. Bersumber dari langit, lalu lahirlah tarian dari tawang. Bedaya Ketawang,” kata KGPH Puger.

Sungguh, Bedaya Ketawang merupakan hasil karya masterpiece tarian yang tak ada duanya. Setiap detail penari memiliki peran yang berbeda dan mengandung nilai-nilai kehidupan bagi manusia. Pantas, Bedaya Ketawang menjadi tarian yang sakral dan hanya dipentaskan dalam Tingalan Jumenengan Raja Keraton Surakarta Hadiningrat.

Penulis: Lukas Budi