ilustrasi (manteb.com/dok)

Di tengah perkembangan musik modern yang semakin beragam, menurut Danis Sugiyanto, seniman sekaligus musisi keroncong dari grup Swastika berujar bahwa dahulu, keroncong pernah menjadi primadona.

“Keroncong pernah menjadi primadona di kampung-kampung, ataupun di tempat elit-elit yang ingin reuni dengan masa lalu. Makin banyak saingan musiknya, keroncong agak silep,” kata Danis.

Mulai naiknya pamor genre jazz, blues, rock, hingga pop di kalangan masyarakat, di mata Danis membuat keroncong menjadi redup pamornya. Namu ketika mulai surut, Danis mengaku bersama seniman-seniman keroncong lainnya, tidak pernah berpikir untuk meninggalkan musik keroncong. “Pas surut, tetap mendalami keroncong karena itu pilihan hidup, berdikasi hidup dalam keroncong karena kebutuhan jiwa, tidak pada kebutuhan materiil,” ujar Danis.

Menurut Danis, sekarang kuantitas pelaku keroncong sudah mulai banyak, namun kualitas yang baik hanya beberapa saja. “Sekarang kuantitasnya iya mulai banyak, tapi orang-orangnya ya itu-itu saja. Orang-orang yang sering muncul dipermukaan itu ya orang-orang yang terpilih,” lanjut Danis.

Kota Solo sebagai salah satu kota yang dikenal dengan musik keroncongnya, menurut Danis harus bisa lebih dikembangkan lagi. Sebagai salah satu anggota Dewan Kesenian Surakarta (DKS), Danis memiliki pemikiran untuk mejadikan Solo memiliki kampung-kampung budaya, seperti kala keroncong menjadi primadona dulu. Namun bedanya menurut Danis, di setiap kampong harus diberi seperti pelatihan atau workshop.

“Solo itu kan asalanya dari kampung, saya berpikiran agar bagaimana kampung itu menjadi kampung budaya seperti ada workshop, ada latihan, syukur ada latihan yang rutin entah keroncong entah gamelan. Kalau sudah terbentuk kampung seperti itu maka nanti bisa ada agenda (pelaksanaan pentas gamelan atau keroncong) yang jelas seperti di New York dan di Denmark yang dulunya merupakan kota hiburan,” ujar Danis.

Dukungan Pemerintah

Tentu semua itu menurut Danis, harus disertai dengan dukungan dari pemerintah kota. Menurutnya, pemerintah di era sekarang ini sudah cukup bagus memberikan andil bagi berkembangnya gamelan dan keroncong. “Pak Rudy ini jelas membantu gamelan, membantu keroncong di tingkat yang riil. Dan pemerintah sekarang, Pak Rudy itu memfasilitasi semua itu, sayangnya sustainable-nya kurang, keberlanjutannya kurang. Alatnya sudah ada tapi latihannya hanya sebentar-sebentar terus sudah,” keluh Danis. Harapannya, Solo ini menjadi salah satu ikon kota budaya yang mejadi indikator musik keroncong di dunia.

Namun ketika ditanya perihal Solo Kota Keroncong, Danis tidak serta merta mengiyakan. “Kalo dari sisi sejarah saya setuju (bahwa Solo merupakan kota keroncong), tapi kalau dari sisi politik itu ya patut dipertimbangkan lagi. Tapi dari sisi kesejarahan, di Nusantara ini kan sekarang kan mainstream keroncong itu gaya Solo, tidak lagi gaya itu berarti ya Solo kota keroncong itu ya saya kira oke,” jelas Danis.

Tetapi pilar-pilar dan juga indikator untuk menjadi kota keroncong harus dipenuhi, mulai dari jumlah grup, maupun dari frekuensi pentas. “Karena kalau seni itu tidak hanya pas ada momenya saja tetapi bagaimana kaderisasinya, seperti itu kan saat ini masih compang-camping, belum terorganisir dengan baik. Kalau orang di luar mengenal Solo sebagai kota keroncong okelah, karena memang di Solo itu paling subur dibadingkan dengan kota-kota yang lain,” kata Danis sembari tersenyum.

Penulis : Wahyu Setiawan

Editor: Lukas Budi