JAKARTA — MANTEB.Com — Sindikat penyedia jasa penyebar konten kebencian terkuak. Ada tiga orang dari kelompok tersebut yang kini telah ditahan oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri.

Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Pol Irwan Anwar mengatakan, ketiga orang tersebut adalah dua laki-laki berinisial JAS dan MFT, lalu seorang perempuan berinisial SRN. Mereka ditangkap di tiga lokasi berbeda. JAS ditangkap di Riau, MFT di Jakarta, dan SRN di Cianjur, Jawa Barat.

“Mereka ditangkap di tiga lokasi yang berbeda,” ujarnKombes Irwan Anwar di Mabes Polri, Rabu (23/8/2017).

Motif Ekonomi

Lebih lanjut Kombes Pol Irwan Anwar menjelaskan, tiga orang itu diduga bertindak sebagai kelompok yang menerima pesanan untuk menyebarkan kebencian dengan motif ekonomi memalui media online, Saracen.

“Sejauh ini motifnya adalah motif ekononi, karena selain memiliki akun-akun media sosial untuk menyebarkan konten kebencian yang bernuansa SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan), mereka punya media online, yaitu Saracen, yang dibuat pada November 2015,” terang Kombes Irwan Anwar sebagaimana dilansir TriBrataNews.

Sumber Pemasukan Iklan

Kombes Irwan menambahkan, sumber pemasukan dari kelompok Saracen juga berasal dari iklan di portal berita yang mereka kelola.

“Untuk membuat portal online tentu butuh biaya. Jadi, ketika ada yang ingin memasang iklan, itu yang kemudian mendatangkan uang,” ujarnya.

Memiliki Grup Wilayah

Masih kata Kombes Irwan, penyedia jasa konten kebencian, Saracen, sebagai sindikat. Sebab, Saracen sudah seperti organisasi yang memiliki grup wilayah.

“Ada grup wilayah, grup organisasi. Jadi tidak lagi perbuatan orang per orang saja. Sudah satu kelompok,” tutur Kombes Irwan.

Menerima Pesanan dari Ormas

Sementara itu, Kepala Bagian Mitra Biro Penmas Divisi Humas Polri Komisaris Besar Awi Setiyono menambahkan, kelompok Saracen ini menjadikan konten kebencian sebagai ladang bisnis.

“Mereka ini penyedia jasa, menerima pemesanan dari pihak atau ormas tertentu, tapi juga ada inisiatif dari mereka sendiri untuk menyebarkannya. Jadi saling membutuhkan-lah,” ujarnya.

Kombes Awi menyebut hal yang sama juga terjadi dalam penyediaan konten dari teks atau gambar kebencian yang ingin disebarkan. “Konten juga bisa dari pihak yang memesan, bisa juga dari mereka sendiri,” tuturnya.

Tarifnya Puluhan Juta Rupiah

Media tersebut memposting berita-berita yang tidak sesuai dengan kebenarannya, tergantung pesanan. Untuk itu banyak sekali pencemaran nama baik, yaitu kepada pejabat publik, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Hingga kini, polisi masih didalami siapa saja yang memesan konten atau berita untuk diunggah di grup maupun situs Saracen.

Sementara itu, Kepala Subdit I Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan, para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pihak pemesan.

“Dalam satu proposal yang kami temukan, itu kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta (rupiah),” kata Irwan.

Bahkan, anggota grup tersebut sudah menyiapkan konten yang akan mereka publikasikan. Konten tersebut baru akan diunggah jika ada pemesan yang membayar.

Mereka memilki ribuan akun untuk memposting meme atau tulisan berbau ujaran kebencian dan SARA.

“Dalam kesehariannya mereka memproduksi yang akan mereka tawarkan,” kata Irwan sebagaimana dikutip dari Kompas.

Punya Ribuan Akun SARA

Grup Saracen juga diketahui berbagi peran dalam melancarkan aksi. Mereka juga punya ribuan akun untuk menyebarkan isu SARA di medsos. Akun-akun tersebut sebagaimana dilansir DetikNews, akan beroperasi sesuai dengan yang diperintahkan pemesan.

“Para pelaku ini memiliki ribuan akun, misalnya kurang-lebih 2.000 akun, itu dia menjelek-jelekkan satu agama, ribuan lagi kurang-lebih itu yang menjelek-jelekkan agama yang lain, itu yang kemudian tergantung pemesanan,” ujar Awi di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu (23/8/2017).