UNJUK RASA: Puluhan seniman angklung di Yogyakarta menggelar unjuk rasa menolak larangan mereka beroperasi di pinggir jalan. (manteb.com/adam-way)

YOGYAKARTA, MANTEB.com – Puluhan orang dari berbagai paguyuban angklung di Yogyakarta berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Jalan Maliboro, Senin (10/4/017) siang. Mereka yang merupakan seniman angklung yang biasa memamerkan kebolehannya di pinggir jalan, menuntut Gubernur DIY dan Kepala Satpol PP agar mencabut larangan operasi angklung di wilayah setempat.

Unjuk rasa diawali dari Taman Parkir Abu Bakar Ali, selanjutnya bergerak menuju Gedung DPRD DIY yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi awal. Dalam aksinya, mereka memprotes adanya surat larangan dari Kepala Satpol PP DIY yang melarang beroperasinya para seniman angklung di jalanan.

Menurut mereka, larangan tersebut cacat hukum karena menyamakan seniman angklung ini dengan gelandangan dan pengemis. Karenanya, mereka menuntut agar Gubernur dan Kepala Satpol PP DIY mencabut larangan tersebut dan tetap mengijinkan mereka mencari uang dengan cara menampilkan keterampilannya di jalan.

Sementara itu meski diprotes, pihak Satpol PP DIY menyatakan tidak akan mencabut larangan tersebut. Karena selain melanggar Perda, keberadaan mereka di jalanan juga dianggap mengganggu ketertiban. Sehingga sanksi keras akan tetap dilakukan jika mereka tetap nekad mengamen di jalanan.

“(Sanksinya) ya kita garuk, kita angkat angklungnya,” tegas Kepala Satpol PP DIY, GBPH Yudhaningrat.

Menurut Yudhaningrat yang juga adik Sultan HB Kesepuluh itu, larangan tersebut bukan dibuat untuk mematikan penghasilan para pengamen angklung. Namun lebih untuk mengatur keberadaan mereka agar lebih tertib dan menarik perhatian wisatawan.

Karenanya, tidak hanya melarang, pihak Satpol PP juga akan merekomendasikan sejumlah lokasi yang boleh dijadikan tempat unjuk kebolehan para pengamen angklung tersebut.

“Pelaksanaannya atau penempatan di depan mall atau di depan hotel, di depan pasar dan sebagainya,” ujar Yudhaningrat.

 

Penulis : Adam

Editor : Wahyu Setiawan