RAYAKAN GOL: Pemain Persis Solo merayakan gol Bayu Nugroho ke gawang Persipur Purwodadi dalam lanjutan pekan keempat Grup 4 Liga 2 di Stadion Krida Bhakti, Purwodadi, Minggu (14/5/2017). (manteb.com/lbc)

SOLO, MANTEB.Com – Persaingan tim di Grup 4 semakin memanas. Selain dua tim, Persis Solo dan PSIS Semarang yang bergantian menjadi pimpinan klasemen sementara, ada satu tim yang sama-sama belum terkalahkan.

Persis Solo dari empat kali penampilan, tercatat tiga kali menang, satu seri. Sementara PSIS sama dengan raihan Persis, hanya beda selisih gol dan memiliki poin sama, 10 angka. Satu tim lagi, PSIR Rembang berada di peringkat ketiga dari satu kemenangan dan tiga kali seri, mengumpulkan enam angka.

Dari komposisi ini, sangat menarik dikupas kekuatan tiga tim teratas di Grup 4. Laskar Dampo Awang meskipun memiliki koleksi enam angka, tim yang diarsiteki Hadi Surento tersebut belum sekalipun mengenyam kekalahan. Artinya, PSIR memiliki kekuatan tersembunyi untuk bersaing di Grup 4.

“Saya buta kekuatan PSIR. Dilihat dari papan klasemen, mereka belum terkalahkan. Kami harus mewaspadai,” kata pelatih Persis, Widyantoro kepada MANTEB.com.

Jika lengah, Persis dan PSIS akan tersingkir dari dua atas. Ketiga tim ini bisa dikatakan penguasa partai away. Laskar Sambernyawa bisa dikatakan raja-nya away hingga pekan keempat.

Pasukan Widyantoro melakoni empat partai, tiga laga dijalani di kandang lawan. Partai home perdana melawan PPSM Magelang dengan skor 3-1 hasil sumbangan gol Bayu Nugroho (40’), Dedi Cahyono (72’), dan Joko Prayitno (76’). Lalu Agung Prast dan kawan-kawan menjalani rentetan away. Sragen United dibungkam 1-0 lewat gol tunggal Bayu Nugroho (19’). Setelah itu, Persis melawat ke kandang Persiba Bantul.

Bermodal kepercayaan diri tinggi dan menang sisi kualitas pemain dan permainan, Laskar Sambernyawa malah menuai hasil imbang 1-1. Dedi Cahyono Putro menjadi pahlawan tim lewat gol pada menit ke-15.

Sepekan berikutnya, Persipur Purwodadi mendapatkan cobaan mahadahsyat dari skema Widyantoro. Tiga poin berhasil dibawa pulang ke Solo melalui gol semata wayang Bayu Nugroho (65’).

Lawan Persipur, Widyantoro mencoba mengubah komposisi the winning team. Bakori Andreas dan Rudiyana menjadi starter menggantikan peran Dedi Cahyono dan Tri Handoko. Skema 4-4-2 bertransisi ke 4-2-3-1 belum memberikan keunggulan pada babak pertama. Kecepatan Bakori terlihat di laga tersebut. Bekerja sama dengan Joko Prayitno, duet Ngalam (baca Malang-red) ini merepotkan barisan pertahanan Persipur melalui sayap.

Sementara Rudiyana yang diplot sebagai lone striker belum maksimal. Ini laga perdana eks Persib Bandung U-21 tersebut menjadi starter. Beberapa kali Rudiyana mengancam gawang lawan, namun belum bisa dikonversi menjadi gol.

Aktif Bergerak

Tiga pemain di belakang Rudiyana, Bakori, Joko dan Bayu Nugroho sangat aktif bergerak di sisi lapangan. Menurunkan Rudiyana sejak menit pertama, Widyantoro menginginkan perubahan pola serang dan mencoba komposisi baru.

“Rotasi memang harus dilakukan, terutama lini depan, agar ada penyegaran dan variasi serangan. Lawan-lawan kita sudah mengintip kekuatan Persis, jadi rotasi harus dijalankan. Tim ini tidak ada pemain inti maupun cadangan, semua siap diturunkan,” tambah Widyantoro.

Babak kedua, perubahan skema pun dilakukan. Dedi Cahyono Putro masuk menggantikan Bakori Andreas dan Tri Handoko menggantikan Rudiyana. Formasi 4-4-2 kembali dilakukan.

Menurunnya fisik lawan dimanfaatkan pemain Persis. Memiliki kecepatan dan determinasi tinggi, pergerakan Joko, Dedi, dan Bayu Nugroho tak bisa dibendung. Gol pun tercipta melalui skema apik dari Agung Prast, bola disundul tipis Joko Prayitno, lalu dikontrol Bayu Andra tik-tak dengan Bayu Nugroho. Dengan ketenangan, bola ditendang melalui kolong kiper Persipur.

“Proses gol tersebut memang sesuai yang saya inginkan. Permainan bola pendek dengan kecepatan, seperti saat latihan,” tambahnya.

Jika Laskar Mahesa Jenar memiliki M Ridwan dan Awan Setho sebagai pemain kunci, Laskar Sambernyawa memiliki kolektivitas di skema yang diusung Widyantoro.

“Kunci dari tim ini terletak pada kolektivitas. Tidak ada pemain yang diistimewakan dalam tim, semua memiliki kesempatan yang sama menjadi starter,”tandasnya.

Kapten tim, Agung Prasetyo mengungkapkan, kekompakan tim tidak dipupuk hanya saat sesi latihan. Di luar jam latihan, dia bersama rekan-rekannya makan bareng di tempat favorit.

“Kami juga beribadah bersama-sama, salat lima waktu. Sebelum pertandingan, teman-teman meminta restu kepada orang tua, istri, dan keluarga,” ungkap Agung.

Joko Prayitno, striker yang sudah mencetak satu gol ini juga berterima kasih kepada antusias Pasoepati. Bagi dia dan teman-teman satu tim, Pasoepati adalah penyuntik semangat.

“Saat away ke Sragen, Bantul, dan terakhir di Purwodadi, semua tribune penuh Pasoepati. Kami serasa setiap laga away adalah home, seperti hanya pindah stadion. Nyanyian ‘Satu Jiwa’ sangat bermakna bagi kami, semua pemain. Jalan masih panjang, perjuangan harus selalu maksimal,” ucap Joko.

Penulis/Editor: Lukas Budi