ilustrasi (manteb.com/Prima Kusuma)

PEDAGANG kaki lima (PKL) di beberapa daerah selalu berhadapan dengan ketegasan dari petugas Satpol PP, karena berjualan mereka dinilai mengurangi keindahan tata kota ataupun karena berjualan sembarangan. Terlebih berjualan di trotoar yang mengambil hal para pejalan kaki.

Tahukah Anda, kapan istilah pedagang kaki lima itu dikenal di Indonesia?

Ternyata, istilah “kaki lima” berasal dari tahun 1811 hingga 1816 saat Napoleon menguasai Benua Eropa dan daerah-daerah Koloni Belanda yang berada di Asia dan dibawah kekuasaan Inggris.

Pada era Gubernur Jenderal di Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles, memerintahkan membuat sistem lalu lintas di sebelah kiri jalan-jalan raya. Dalam pembangunan itu, Raffles juga memerintahkan membuat trotoar untuk pejalan kaki yang tingginya 31 sentimeter dan lebar 150 sentimeter, atau seukuran lima kaki (five feet).

Dari lima kaki inilah, seiring perkembangan zaman, trotoar menjadi tempat berjualan para pedagang dan mendapat julukan pedagang kaki lima.

Penulis: Lukas Budi Cahyono